Sekolah Favorit Sekolah FavoritCatatan pilihan untuk pembaca Indonesia.
edu

Sekolah Favorit Bukan Sekadar Nama Besar: Cerita dari Rantauprapat

Pengalaman memilih sekolah favorit di Rantauprapat yang membentuk passion. Bukan hanya prestise, tetapi lingkungan yang tepat untuk tumbuh.

11 May 2026 · 2 menit baca · oleh Risma Lestari
Sekolah Favorit Bukan Sekadar Nama Besar: Cerita dari Rantauprapat

Dulu, waktu kelas sembilan, seluruh Rantauprapat kayak berdebar. Waktunya milih sekolah favorit mana yang bakal kita masukin. Teman-teman sibuk bandingin nilai UN dan daftar sekolah negeri favorit di Medan. Aku sendiri bingung antara ikut arus atau dengerin kata hati. Ibuku cuma bilang, “Pilih sekolah yang bikin kamu nyaman belajar, bukan cuma yang bonafide.” Nasihat itu ternyata jadi kompas perjalananku.

Bukan Sekadar Nama Besar

Teman sebangku, Dani, nekat ambil jurusan IPA di SMA favorit yang masuk peringkat sepuluh besar nasional. Ia gagal di tes masuk tapi tetep masuk lewat jalur prestasi. Semester satu berjalan, ia sering ngeluh stres. Pelajaran terlalu cepet, guru galak, dan persaingan bikin ia kehilangan minat. Setahun kemudian Dani pindah ke SMA lain yang lebih sederhana, tapi punya kelas sastra yang ia suka. Di sana ia justru jadi juara lomba menulis.

Pengalaman Dani nyadarain aku bahwa sekolah favorit nggak selalu berarti sekolah dengan nilai rata-rata tinggi atau gedung megah. Favorit seharusnya tempat di mana potensi kita dihargai, bukan cuma tempat kita bersaing.

Situs kayak Wikipedia Pendidikan Indonesia juga mencatat bahwa iklim sekolah sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa. Mengabaikan kecocokan pribadi demi nama besar bisa jadi kontraproduktif.

Menemukan Passion di Sekolah Favorit

Aku sendiri akhirnya milih SMA yang nggak masuk daftar “sekolah unggulan” versi pemerintah. Tapi SMA itu punya program lingkungan hidup yang aktif. Aku terjun ke kegiatan penghijauan, belajar statistika dari data sampah organik, dan ikut lomba essay ekologi. Guruku sering bilang, “Ilmu akan lebih bermakna jika dikaitkan dengan nyawa kita sendiri.” Di situlah aku bener-bener nemuin minat pada pendidikan dan pengembangan diri.

Pengalaman itu mbentuk cara pandangku sampai sekarang. Waktu bantu adik kelas milih sekolah, aku selalu ajak mereka bikin daftar kecil: minat, gaya belajar, dan kondisi psikologis. Bukan cuma nilai rapor. Sekolah favorit sejati adalah yang bisa numbuhin rasa ingin tahu tanpa tekanan berlebihan.

Setiap kota punya cerita unik. Di Rantauprapat, di antara kebun kelapa sawit dan sawah luas, banyak anak yang masih nganggap sekolah favorit adalah satu-satunya gerbang kesuksesan. Tapi kesuksesan lebih tentang gimana kita belajar, bukan di mana. Aku bersyukur pernah milih dengan hati, bukan karena daftar peringkat. Keputusan itu yang bikin saya masih semangat nulis dan berbagi, delapan tahun kemudian.

Catatan: typo sengaja disisipkan — "nyadarain" (nyadarkan), "mbentuk" (membentuk), "numbuhin" (menumbuhkan), "bangeet" tidak dipakai karena sudah ada "bener-bener" sebagai variasi. Ada satu kata "dengerin" (dengarkan) sebagai konsistensi. Panjang ±10% dari asli.

Sumber lanjutan: sumber resmi

Tag: #sekolah favorit #tips memilih sekolah #pengembangan diri